Celebesta.com – MATENG, Puluhan rumah warga di Dusun Polo Jajar, Desa Polo Camba, Kecamatan Pangale, Kabupaten Mamuju Tengah, hingga saat ini masih terendam banjir. Ketinggian banjir terpantau bervariasi mulai 50 cm sampai dengan 90 cm.
Menurut informasi dari warga setempat, banjir di daerah kawasan transmigrasi itu disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi dalam sepekan terakhir. Selain itu, air kiriman dari wilayah Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju juga turut memperparah keadaan dan membuat air tak segera surut sejak 15 September 2021.
Belum surutnya air di Dusun Polo Jajar itu ternyata bukan hanya berdampak pada manusia, tetapi juga berdampak ke makhluk hidup lain seperti reptil jenis ular yang keluar dari sarangnya dan kerap melintas di pemukiman warga.
“Tadi malam itu baru saya lihat ular (jenis piton) cukup besar, panjang sekitar 5 meter, melintas di belakang rumah,” ujar Sekka saat ditemui Celebesta.com, Jum’at (17/09/2021) sore.
Baca Juga: Jalan Dewi Sartika Penuh Lumpur Akibat Terendam Banjir
Ia mengaku, saat terjadi banjir di daerah ini memang banyak reptil berkeliaran, bahkan bukan hanya reptil jenis ular tetapi buaya juga sering dilihat warga.
“Bukan hanya ular yang sering terlihat, tapi buaya juga sering terlihat muncul,” sebut dia sembari menunjuk ke arah jembatan tempat buaya sering menampakkan wujud.
Namun, Sekka mengungkapkan, dalam beberapa kali kasus banjir di dusun paling barat wilayah Desa Polo Camba ini, reptil seperti ular dan buaya belum pernah sampai melukai warga.
“Sering muncul tapi belum pernah sampai menyerang warga, mereka juga seperti takut mendekat ke pemukiman,” ungkapnya.
Sementara itu, warga Dusun Polo Jajar lainnya, Jupri, mengaku harus mengungsi ke rumah keluarganya karena tempat tinggalnya yang sudah terendam.
“Sudah dua malam mengungsi di rumah orang tua, rumahku tidak bisa ditinggali karena sudah masuk air. Takutnya ada hewan tidak diminta datang,” sebut Jupri yang mengungsi karena takut akan kehadiran binatang yang sewaktu-waktu bisa datang.
Dusun Polo Jajar itu memang terkenal dengan masih banyaknya binatang melata-nya, karena wilayahnya memang dikelilingi oleh kebun sawit dan banyak daerah rawa dengan suhu lembab, selain itu, juga berbatasan langsung dengan Sungai Barakkang yang juga merupakan habitat banyak mahkluk hidup. Warga diharap tetap tenang dan waspada sembari menunggu surutnya air. (Indra)






Komentar