oleh

Anak Muda dan Taman Baca

Oleh : Fathul Muzzat Fazrianto*

(Lelaki penikmat puisi, Pendiri Komunitas Literasi cd–ku (candu buku) Palu serta Pendiri Taman Baca Buluri)

Ratusan tahun lalu buku ditulis dengan cara manual. Kabarnya, untuk menghasilkan satu buah buku dibutuhkan waktu yang cukup lama serta biaya yang harus dikeluarkan pun tak main-main. Alhasil pada zaman itu hanya kalangan tertentu yang bisa menjangkau buku.

Pada tahun 1455 Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak. Buku-buku cetak mulai dikenal luas sejak adanya penemuan mesin ini. Juga menjadi cikal bakal lahirnya penerbit-penerbit buku di dunia.

Mesin cetak terus berkembang, makin lama makin canggih, harga buku cenderung menjadi lebih murah. Buku yang kita lihat sekarang merupakan hasil temuan para ahli, mereka mengusahakan agar masyarakat mudah mendapatkan pengetahuan dengan kemasan yang lebih praktis.

Fakta menariknya ialah Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Ini berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019.

Hemat saya minimnya akses terhadap literatur lah yang menjadi pokok permasalahannya. Inilah mengapa taman baca menjadi penting diusahakan oleh berbagai kalangan termasuk anak muda. Dalam hal ini tentu kawula muda tidak bisa berdiri sendiri, perlu adanya kolaborasi terhadap pihak-pihak terkait agar kedepannya akses terhadap buku bacaan menjadi mudah dan pemberdayaan pemuda pun bisa lebih terarah.

Ada begitu banyak taman baca atau gerakan literasi di Indonesia. Tapi, pada kesempatan kali ini penulis mengambil salah satu contoh dari gerakan tersebut yang mana didominasi oleh kawula muda yaitu, taman baca Buluri.

Persis seperti namanya, taman baca ini diinisiasi oleh penulis dan kawan-kawan yang memang pemuda dari Kelurahan Buluri, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu. Sebagaimana taman baca pada umumnya, kami berangkat dari keresahan. Berbekal niat dan tekad kamipun mengawali giat positif tersebut dengan mengajak anak-anak tuk menggambar, mewarnai, serta bermain bersama.

Senada dengan apa yang paparkan penulis sebelumnya, perlu adanya kolaborasi terhadap pihak-pihak terkait. Ya, kami dibantu oleh sebuah gerakan yang bernama “bergerak dari Palu”. Gerakan ini diinisiasi lintas komunitas anak muda Palu yang ingin mengupayakan terciptanya ruang kreatif anak-anak di tengah penceklik melanda.

Tentu kami sungguh senang. Mengingat kami yang merintis taman baca ini belum punya basic dalam hal belajar mengajar melainkan hanya punya niat yang kuat.

Giat tersebut sudah berlangsung selama kurang lebih sebulan dan diupayakan terus berlanjut. Harapan kami gerakan ini bisa menginspirasi pemuda-pemudi khususnya di Kota Palu agar lebih peduli lagi terhadap minat baca serta bisa bersama mengupayakan peningkatan mutu pendidikan di Kota tercinta.

Terlepas dari pemaparan di atas yang perlu digarisbawahi yaitu, taman baca bukan hanya sekedar perihal buku. Kepekaan, kepedulian, serta sikap kritislah yang menjadi poin pentingnya.

Salam literasi !!!

*Tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed