Celebesta.com – BULUKUMBA, Nurfitriana Alifia, ia adalah perempuan Kajang yang berbagi informasi seputar cara Orang Kajang berladang.
Perempuan Alumni Fakultas Pertanian, Universitas Muslim Indonesia (UMI) itu menuturkan bahwa Orang Kajang berladang itu menetap di satu lahan yang sudah secara turun-temurun di kelola oleh pemiliknya sendiri.
Hanya saja, kata Ana sapaan akrabnya yang sedikit berbeda dari masyakat kajang adalah melakukan ritual-ritual tertentu dalam proses berladang.
“Ada ritual sebelum memulai penanaman dan setelah panen. Sebelum menanam dan memanen ada yang namanya Pa’tumbu. Dua-duanya melakukan Pa’tumbu sebelum tanam dan satu minggu sebelum panen,” kata dia kepada Celebesta.com, Sabtu (26/12/2020).
Pa’tumbu artinya memulai, sebelum Pa’tumbu orang tua mencari hari baik dengan menggunakan tanggal perhitungan mereka yang sudah turun-temurun digunakan,” urainya.
“Dan setelah panen ada acara Bacadoang. Bacadoang itu adalah membaca doa sebagai bentuk syukuran. Disitu makan-makan bersama para tetangga,” lanjutnya.
Ana juga menjelaskan bahwa Orang Kajang dalam berladang dengan menggunakan alat tradisional.
“Oh iya yang bedanya masyarakat Kajang bagian dalam itu, alat-alat pertanian yang digunakan masih tradisional seperti alat pembajak sawah cara mereka panen tidak menggunakan tenaga mesin,” tutur Ana.
Ada juga ladang khusus, siapapun yang menjadi kepala Suku atau Ammatoa ada sawah yang dikelola selama menjadi Ammatoa.
“Jadi ladang ini sistem kepemilikannya berpindah secara aturan adat,” pungkas Ana.
Reporter: Arman Seli







Komentar