celebesta.com – Sigi, Terjadinya peristiwa kekerasan di Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi beberapa hari yang lalu mendapat tanggapan dari sejumlah organisasi masyarakat sipil.
Seperti Celebes Institute dengan menggelar diskusi dengan Tema “Mengapa Operasi Darurat Panjang tidak mengakhiri Teror dan Kekerasan?”
Adriany Badrah, Direktur Celebes Institute yang menjadi pembicara dalam diskusi tersebut mengatakan bahwa durasi operasi sejak 2015 hingga hari ini, khususnya perburuan pelaku teror dan aksi-aksi kekerasan.
“Pada Tahun 2015 menggunakan Camar Maleo, kemudian Tahun 2016 menjadi Tinombala dan diperpanjang lagi sampai 31 Desember 2020,” kata Adriany.
Menurut Adriany, aksi kekerasan dan teror beringan dengan durasi operasi yang lama tetapi tidak mampu juga menuntaskan orang-orang yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).
“Orang-orang yang jadi DPO bertambah, itu artinya kelompok ini terus melakukan pergerakan, rekrutmen dan ideologisasi,” ungkapnya.
Dirinya justru mempertanyakan saat peristiwa Lembantongoa terjadi, di mana Aparat yang tergabung dalam operasi Tinombala.
“Pertanyaannya operasi ini dimana, sementara Operasi ini ada tiga klasifikasinya (Intelijen, Penindakan dan Pemberkasan). Intelijen itu sekitar 75 persen, Penindakan 5 Persen dan Pemberkasan 20 Persen. Ada apa dengan intelijen tidak bisa mendeteksi,” urai dia dengan nada bertanya.
Dirinya juga menyoroti soal metode BKO dan Petugas yang silih berganti, tiga sampai enam bulan kemudian menghadapi kelompok yang bertahun-tahun menguasai medan dan hutan.
Adriany menilai peristiwa Lembantongoa terjadi karena adanya Pembiaran dari Aparat yang tergabung dalam Operasi Tinombala.
“Operasi Tinombala itu bukan hanya gagal tetapi ada proses pembiaran sehingga terjadi kekerasan seperti itu,” tegasnya.
Nah sebenarnya setiap oprasi Publik sudah setiap perpanjangan opresi Publik sudah menerima informasi terkait pelaksanaan oprasi ini, daya serap anggaranya kemudian efektivitas pelaksanaan operasi dan kemudian target sasaran yang diburu seharusnya ada rilis Publik. Nah ini kita tidak semesti mencari peristiwa ini mencari update peristiwa ini telpon sana telpon sini seperti itu.
Jadi kemudian ini hanya memunculkan banyak spekulasi-spekulasi tadi, yang paling bisanya teraupdate dari kecurigaan mantan Narapidana teroris ini bahwa ada pembiaran, kalau saya sudah tegas bahwa ini pembiaran bukan lagi soal gagal dalam oprasi Tinombala.
Dalam diskusi itu juga Adriany mengatakan bahwa kekerasan yang terjadi di Sigi tersebut dilakukan oleh Jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT)
“Kelompok yang sama, jaringan yang sama kalau saya lihat dari sistem gerilya,” imbuhnya.
Kemudian target kelompok ini (MIT) bukan saja berdalih Agama tetapi mereka yang membantu aparat (togut) itu juga menjadi sasaran.
“Peristiwa Lembantongoa itu berarti mereka menunjukkan eksistensi kelompok itu,” pungkasnya.
Sementara itu, Kasubdit Penmas Humas Polda Sulteng, Sugeng Lestari saat dikonfirmasi via WhatsApp tentang perpanjangan operasi tinombala, hingga berita ini dinaikkan belum ada tanggapan. (Arm)







Komentar