celebesta.com – Sigi, Rukmini Paata Toheke, ia adalah Perempuan Adat (Tina Ngata) yang hingga kini tetap konsisten dalam memperjuangkan hak-hak Masyarakat Adat.
Momentum kampanye 16 Anti Kekerasan Terhadap Perempuan saat ini, ia juga tetap berada digaris perjuangannya.
Perempuan tiga anak ini banyak terlibat dalam diskusi-diskusi kampung, nasional hingga internasional membahas berbagai hal tentang isu Masyarakat Adat dan Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA).
Menjaga sumber daya alam bukan hanya mendorong kebijakan melalui perundang-undangan, tetapi ia juga menitipkan ke anaknya melalui nama, seperti anak sulungnya Ika Lestari dan bungsu bernama Alam.
Hal itu sebagai isyarat agar anak cucunya tetap menjaga Kelestarian Alam.
Rukmini mengatakan bahwa Perempuan Adat sangat bergantung dengan Sumber Daya Alam.
“Kontribusi menjaga dan mengelola alam sejak dulu sangat dihormati,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Kamis (27/11/2020) kemarin-red.
Lebih lanjut, Rukmini menjelaskan bahwa saat ini yang dibutuhkan Perempuan Adat di hutan mulai dari kayu bakar, tanaman obat-obatan sampai bahan kerajinan. Seperti, pandan hutan untukĀ tikar dan bakul.
Kemudian, sambung dia, kebutuhan pangan, sayuran, umbut dan wewangian (Parfum) zaman duluĀ disebut Nompi dan bahan kulit kayu. Hutan juga dianggap sebagai Katuwua atau Kehidupan
“Untuk perempuan, sumber penghidupan itu akses yang paling luas di wilayah Pampa,” ujarnya.
Bisa menanam tanaman tahunan dan kebutuhan setiap hari, seperti rica (cabe) dan ubi,” ungkap Rukmini.
Pampa adalah tempat berladang atau berkebun, istilah tersebut berasal dari bahasa Moma di Kulawi, Kabupaten Sigi.
Reporter: Arman Seli






Komentar