oleh

PKM Dorong Peningkatan Produktivitas dan Mencegah Degradasi Lahan di Desa Omu, Sigi

SIGI – Celebesta.com, Melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) tim Dosen dari Universitas Tadulako (Untad) kepada kelompok Wanatani melakukan Diseminasi Teknologi Usahatani Konservasi Terpadu untuk Meningkatkan Produktivitas dan Mencegah Degradasi Lahan di Desa Omu, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi.

Dalam PKM ini, tim Dosen Pengabdi diketuai oleh Asgar Taiyeb, S.P., M.P, dari Fakultas Kehutanan, dan beranggotakan masing-masing Dr. Hendra Pribadi, S.P., M.P, dari Fakultas Kehutanan dan Dr. Ir. Anthon Monde, M.P. dari Fakultas Pertanian.

Ketua tim, Asgar Taiyeb mengatakan, pelaksanaan program ini dibiayai oleh Kemendikbud RI dengan surat bernomor: 091/SP2H/PPM/DRPM/2020, pada tanggal 16 Maret 2020. Melalui program ini, diseminasi teknologi usahatani konservasi lahan terpadu diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan yang kerap dihadapi oleh kelompok wanatani yakni seringnya terjadi longsor di areal hutan rakyat dan kebun rakyat yang menyebabkan produktivitas lahan semakin berkurang.

“Tujuan program PKM ini secara diseminasi teknologi usahatani konservasi terpadu secara umum adalah mengembangkan kelompok Bina Tani Desa Omu untuk mandiri di bidang ekonomi dan dapat menciptakan mitigasi bencana bagi masyarakat desa yang berdekatan agar terhindar dari bahaya longsor atau banjir, dan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dalam bertani secara teknologi konservasi yang terpadu”, terang Asgar menjelaskan tujuan program, Minggu (25/10/2020).

Selain itu, kata Asgar, secara khusus, program PKM ini bertujuan untuk  memberikan penjelasan pengetahuan, keterampilan dan keahlian kepada masyarakat dengan menyampaikan materi dan mempraktekkan setiap kegiatan pelatihan teknik konservasi, pembuatan teras, pembuatan pupuk organik dan peningkatan pengelolaan pembukuan usahatani konservasi terpadu bagi anggota kelompok tani Bina Tani Desa Omu.

Menurut Ketua Tim Pengabdi, PKM di Desa Omu didasari pentingnya menjaga desa ini sebagai salah satu desa yang menjadi penyanggah dan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Lore Lindu. Aktivitas berusahatani yang ramah lingkungan penting dilakukan mengingat zona penyanggah perlu dikelola agar keberadaan masyarakat terhindar dari kemerosotan kesuburan tanah dan menjaga lahan usahatani dan pemukiman dari ancaman erosi dan banjir.

Dengan berusahatani menerapakan kaidah konservasi maka dengan sendirinya ikut melibatkan peran serta masyarakat khususnya kelompok tani agroforestri dalam melestarikan kawasan pelestarian alam TNLL.

“Untuk mencegah kemorosotan kesuburan tanah dan degradasi lahan, kami melakukan  kegiatan pendampingan kelompok tani agroforestri agar dapat meningkatkan produktivitas lahan terutama pada hutan rakyat yang ditanami pepohonan seperti Jati dan kebun rakyat seperti kakao agar masyarakat dapat meningkatkan pendapatannya,” ujarnya.

Aktivitas dari Tim Dosen Fakultas Kehutanan dan Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako bersama kelompok Wanatani di Desa Omu, Kecamatan Gumbasa. Kabupaten Sigi (Foto: Tim Pengabdi).

“Beberapa jenis tanaman MPTS seperti durian, mangga, nangka, kemiri dibagikan kepada kelompok tani sebagai pendorong agar masyarakat tergerak selalu berusaha tani secara produktif disamping praktek pendampingan pembuatan terassering dan praktek pemupukan secara organik dengan memanfaatkan bahan dasar limbah ternak yang tersedia di lahan agroforestri. Jadi inovasi teknologi agroforestri diterapkan pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dengan harapan petani kelompok wanatani yang dibina menularkan pula ilmunya kepada kelompok tani atau anggota masyarakat di desa Omu,” tambahnya.

Hal ini tidak lepas dari peran pengurus kelompok tani dan ucapan terima kasih kepada Kepala Desa yang sangat mendukung dan mempercepat proses transfer teknologi kepada masyarakat dan sekaligus harapan ke depan setelah kegiatan ini tetap berkembang kelompok masyarakat yang dapat mandiri secara ekonomis dengan mengembangkan potensi SDA yang tersedia untuk mensejahterakan masyarakat.

Lebih lanjut, Asgar Taiyeb juga mengungkapkan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program yakni dilaksanakan di tengah Pandemi Covid-19. Sehingga, masyarakat masih memiliki rasa kekhawatiran untuk mengikuti dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah diagendakan dalam program.

Terakhir, pihaknya juga mengucapkan terimakasih kepada Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang telah membiayai kegiatan pengabdian ini melalui skim Program Kemitraan Masyarakat (PKM).

Sumber: PKM, Untad

Editor: Arman Seli

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan