Ad Banner

Sawah di lembah Behoa, Desa Katu, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso (Foto: Arman Seli).

Mengenal Struktur Ruang Orang Katu

 |   |  84 Views

POSO – Celebesta.com, Malam yang diselimuti kabut dan dingin sampai ke tulang, duduk di dekat sumber api untuk menghangatkan badan, orang-orang Behoa menyebutnya Menene kemudian ditemani dara atau tuak dari pohon enau.

Diskusi dengan Joni Pantoli, tokoh masyarakat Desa Katu, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso Belum lama ini, banyak mendapat informasi penting tentang struktur ruang dan pengetahuan lokal.

Joni juga banyak merefleksikan perjuangan di desanya dan semasa ia menjabat Sekretaris Desa, Kepala Desa dan hingga kini aktif di Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Desa Katu mempunyai riwayat konflik dengan Balai Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL).

Padahal menurut Joni bahwa Orang Katu memiliki struktur ruang dalam mengelolah Sumber Daya Alam. “Kami tidak merusak hutan, justru kami menjaganya”, ungkap Joni.

Kami juga paham mana yang bisa diolah, mana yang tidak”, kata dia.

Orang Katu memiliki struktur ruang, misalnya hutan yang belum dikelolah itu disebut Wana, Hutan jenis ini banyak ditumbuhi lumut, damar dan jauh dari perkampungan.

Pemukiman masyarakat di lembah Behoa, Desa Katu, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso (Foto: Arman Seli).

Kemudian Pandulu merupakan hutan yang pernah diolah tetapi sudah ditinggalkan puluhan tahun dan bisa diolah kembali. Jika Pandulu dibuka maka prosesnya disebut Mepandulu.

Lopo Ntua merupakan lahan pernah diolah sekitar 20 hingga 50 tahun, disitu ada kayu yang bisa diolah. Jika lahan ini dibuka maka prosesnya disebut Melopo Ntua.

Selanjutnya Lopo Lehe, lahan yang pernah diolah 5 hingga 10 tahun. Jika lahan ini dibuka maka prosesnya disebut Melopo Lehe. Jadi yang membedakan dua jenis lahan tersebut adalah usianya.

Kemudian Holu, bekas ladang yang baru ditinggalkan dalam hitungan bulan. Selanjutnya ladang atau kebun, Orang Katu Menyebut Hinoe.

Orang Katu dalam Bahasa Behoa memiliki pengetahuan lokal tentang Konservasi Adat yang disebut Torapeamparae adalah tempat tertentu yang dilindungi dan tidak bisa dikelolah karena dianggap keramat, ada mata air, kuburan tua  dan sebagainya.

Reporter: Arman Seli

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *