PARIMO – Celebesta.com, Keanekaragaman Budaya Indonesia memberikan warna bagi setiap suku bangsa yang mendiami tiap pulau dari Sabang sampai Merauke.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2010 Indonesia memiliki 1.331 Suku yang bertempat tinggal didaratan maupun di pegunungan.
Masing-masing daerah mempunyai suku asli yang mendiami tempat tersebut, suku asli ini biasanya hidup secara komunal di belantara hutan atau biasa disebut sebagai suku terpencil.
Seyogyanya suku terpencil merupakan penduduk yang pertama kali membuat pemukiman di suatu daerah, berbagai penyebutan yang disematkan kepada suku terpencil sesuai dengan kekhasan daripada daerah itu sendiri.
Seperti halnya Suku Lauje merupakan salah satu suku yang berada di Kabupaten Parigi Moutong, Suku Lauje sendiri tersebar dibeberapa wilayah khususnya di Kecamatan Palasa.
Masyarakat Suku Lauje mendiami pegunungan dan mereka hidup secara nomaden “berpindah-pindah” dengan cara bertani dan berburu.
Menurut Budayawan Palasa, Ismail Palabi (1996/1997) dalam catatan Kebudayaan Kecamatan Palasa, pengertian Bata yang lebih dikenal dengan masyarakat terasing yakni penduduk yang mendiami belahan gunung, Kecamatan Palasa dan Kecamatan Dondo.
Etnik Lauje ditinjau dalam makna bahasa Bata artinya belah dua. Dalam menguatkan kata Bata atau belah dua adanya dua julukan yakni Bata Sebia artinya penduduk asli Malomba Kecamatan Dondo dan Bata Palasa artinya orang belahan gunung Palasa Kecamatan Palasa.
Wujud dari makna penggunaan kata Bata lama kelamaan sirna, pudar karena perbedaan pendapat dan persepsi penelitian, apalagi bagi mereka keturunan orang Bata sudah sebagian besar tidak menyenangi dikategorikan penduduk asli Bata, bagi individu-individu di kawasan gunung pedalaman bahwa Bata artinya bodoh, sebenarnya tidak demikian.
Untuk tidak menemui jurang pemisah dalam pergaulan sehari-hari, sesama masyarakat suku terasing dan masyarakat kampung, entah kapan mulainya muncul bahasa komunikasi dan menarik bagi kedua pemukim yang lebih mempererat persaudaraan dengan kata halus menjadi Bela.
Kata Bela mencerminkan satu konsepsi nilai budaya yang pada praktek sehari-hari bermakna sosial, menjalin hubungan dan komunikasi kesamaan pandangan, selayaknya suatu kesatuan yang utuh.
Transisi penyebutan atau panggilan dari Suku Lauje yang berawal dari sebutan Bata menjadi Bela sebagai bentuk kesadaran masyarakat terpencil Suku Lauje terhadap pandangan kepada mereka untuk kesetaraan secara kehidupan sosial.
Arus deras modernisasi mengakibatkan suku terpencil mulai tergeser dari peradaban sehingga menjadi tantangan untuk kita semua menjaga dan mempertahankan kearifan lokal di tempat kita berpijak. (Miftahul Afdal/Mahasiswa Universitas Tadulako)






Komentar