oleh

Perubahan Iklim dan Sulitnya Pemenuhan Pangan Perempuan di Sulawesi Tengah

Oleh: Ananda Farah Lestari

Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi terbesar di Indonesia yang memiliki daratan tinggi dan daratan rendah kemudian terdapat beberapa danau dan dikelilingi oleh selat, teluk, laut dan pegunungan.

Sulawesi Tengah mempunyai variasi musim yang disebabkan dari faktor letak geografis dan topografi. Beragamnya tutupan lahan dan kompleksnya topografi serta letak geografis Sulawesi Tengah yang berada dekat dengan garis khatulistiwa sangat berpengaruh terhadap beragamnya kondisi iklim di Provinsi Sulawesi Tengah.

Salah satu parameter iklim yang penting adalah curah hujan, di Provinsi Sulawesi Tengah terdapat 40 desa yang rentan akibat dari perubahan iklim. Pada akhir tahun 2022 lalu di Sulawesi Tengah terjadi hujan secara terus menerus sehingga ada beberapa daerah mengalami banjir.

Hal ini dapat dilihat pada bulan September 2022, di Sigi terjadi curah hujan yang cukup panjang sehingga mengakibatkan sawah-sawah terendam banjir.

Salah satunya di Desa Pakuli Utara, Kabupaten Sigi. Curah hujan yang tinggi menyebabkan sungai yang ada meluap dan menghantam pemukiman warga.

Lahan pertanian yang berada di bantaran sungai terendam banjir, sehingga mengalami gagal panen. Hal itu menyebabkan tidak ada penghasilan yang didapatkan karena di desa tersebut mayoritas pekerjaan masyarakatnya adalah sebagai petani dan berkebun.

Namun sejak awal tahun 2023 terjadi gelombang panas di Sulteng dan dari berbagai Negara, hingga merenggut nyawa sekitar 96 orang di India akibat panas terik jauh dari suhu normal pada umumnya dan kelembapan udara yang rendah.

Pasca 4 tahun bencana yang terjadi di Palu, Sigi dan Donggala, hasilnya hanya kurang dari 15% rumah tangga yang pulih sepunuhnya, baik secara fisik maupun ekonomi.

Kondisi masyarakat semakin parah akibat perubahan iklim dan pandemi COVID-19. Saat ini, 40 desa di Sulawesi Tengah berisiko tinggi terdampak krisis iklim, 9 kabupaten rawan banjir dan longsor, termasuk Palu, Sigi, dan Donggala.

Kemudian di Kabupaten Donggala, banjir rob masih mengkhawatirkan dari waktu ke waktu dan mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti kegiatan ekonomi hingga akses anak-anak ke sekolah.

Sementara itu, Sigi menghadapi sistem irigasi yang terganggu dan kelangkaan air menjadi tantangan masyarakat, apalagi disituasi yang begitu panas ini. Hanya 50% rumah tangga di Sigi yang memiliki fasilitas air dan sanitasi yang baik.

Mengutip apa yang pernah disampaikan Kepala SPAG Lore lindu, Bariri Asep Firman Ilahi apabila kenaikan suhu bumi tidak bisa dibendung. Maka kondisi tersebut bisa membuat es di kutub mencair sehingga menaikkan volume permukaan laut. Artinya,15.000 pulau kecil di Sulawesi Tengah bakal tenggelam.

Selain itu, rusaknya ekosistem laut khususnya terumbu karang sehingga masyarakat tinggal di daerah pesisir yang berprofesi sebagai nelayan akan menurun hasil tangkapan ikannya.

Hal ini senada dengan pernyataan perempuan-perempuan nelayan dan istri nelayan di Lero bahwa beberapa tahun terakhir hingga saat ini mereka semakin sulit untuk mendapatkan ikan saat melaut.

Sehingga kemampuan perempuan dalam memenuhi pangannya dari hasil laut juga menurun. saat ini untuk mencari ikan nelayan harus pergi melaut jauh dari wilayah pesisir desa Lero.

Belum lagi perubahan arah angin yang tidak dapat diprediksi meningkatkan kerentanan terhadap keselamatan nelayan.

Ketika nelayan tidak dapat menghasilkan ikan maka berpengaruh terhadap hasil jual perempuan pedagang yang menjajahkan jualannya dari hasil laut di desa Lero seperti Rono Tapa dan Abon Ikan serta olahan makanan dari hasil laut lainnya.

Berdampak pada kurangnya penghasilan dan tidak jarang mereka terpaksa menjual dengan harga yang lebih mahal karena biaya produksi juga mahal,situasi ini kemudian dapat diperparah dengan akan beroperasinya PLTU Palu 3 dengan kapasitas 2×50 MW di desa Lero, dan PT Vio Resources di desa Lero dan beberapa desa Lainnya di kecamatan Sindue dan Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala.

Perubahan iklim terutama diakibatkan dari penggunaan bahan Fosil yang berlebihan yang dimulai sejak revolusi industri. Kegiatan-kegiatan tersebut menghasilkan gas-gas rumah kaca kemudian menyelimuti bumi sehingga semakin panas.

Salah satu dari pengaruh perubahan iklim yaitu dampak dari aktivitas industri pertambangan contohnya PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dimana aktivitas pertambangan ini dominan menggunakan bahan bakar Fosil yaitu Batu Bara yang paling memicu peningkatan panas bumi karena menghasilkan emisi gas Karbon Dioksida.

Hingga tahun 2023 ada 18 PLTU yang beroperasi di dalam kawasan PT IMIP dengan total daya 3.867 Megawatt, tercatat bahwa Indonesia berada pada peringkat ke 6 secara global dengan emisi PLTU Batu Bara 214 Juta Ton Co2 yang dihasilkan.

Padahal disisi lain pemerintah dalam hal ini presiden mengeluarkan Peraturan nomor 98 tahun 2021 yang merupakan upaya pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada 2030, namun dengan hal ini presiden meluncurkan Bursa Karbon Indonesia yang justru akan mempersempit dan menghilangkan akses perempuan atas hutannya.

Perubahan iklim ini memberikan pengaruh yang besar bagi keberlangsungan hidup manusia apalagi bagi perempuan, anak serta disabilitas dan kelompok rentan lainnya karena hidup manusia sangat bergantung kepada sumber daya alam seperti tanah, air, laut dan juga udara.

Cuaca panas dalam waktu panjang dan kurangnya hujan menyebabkan kekeringan, yang membuat semakin langkahnya sumber air bersih dan hal ini meningkatkan resiko perempuan dan anak perempuan menjadi rentan mengalami gangguan kesehatan reproduksi, sulitnya air bersih dan sumber air untuk pertanian membuat perempuan semakin sulit memenuhi kebutuhan pangannya.

Anak-anak semakin sulit mendapatkan makanan yang baik sehingga kerentanan mengalami stunting semakin besar disaat bencana iklim terjadi.

kemudian perempuan petani mengalami penurunan penghasilan bahkan gagal panen, jika kemarau dalam jangka waktu yang panjang maka perempuan dan anak lebih rentan mengalami kelaparan.

Sulitnya memenuhi pangan dan hilangnya mata pencarian perempuan dari pertanian dapat memicu perempuan semakin banyak terpaksa bermigrasi untuk bekerja di luar negeri demi memenuhi pangan keluarga walaupun dengan minimnya perlindungan.

Hal diatas berdasarkan pernyatan-pernyataan perempuan di Kabupaten Sigi yang mengalami sulitnya memenuhi pangan keluarga saat kekeringan dan bencana alam akibat dari perubahan iklim hingga membuat perempuan harus memilih bekerja menjadi Perempuan Buruh Migran.

Berdasarkan situasi tersebut diatas, maka tuntutan perempuan Solidaritas Perempuan (SP) Palu mendesak pemerintah harus serius melakukan penanganan pengurangan emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan akibat penggunaan PLTU yang begitu massif di Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya wilayah Industri Morowali.

Selanjutnya Pemerintah Sulawesi Tengah harus menghentikan pembangunan-pembangunan PLTU di Sulteng seperti PLTU Lero, dan segera dengan cepat menghentikan penggunaan PLTU pada perusahaan-perusahaan di Morowali. Segera merumuskan dan mengesahkan Peraturan daerah terkait penggunaan Energi di Sulawesi Tengah dengan melibatkan perempuan.

Penulis Merupakan Koordinator Program SP Palu

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan