oleh

Cinta Munir, Cinta Kemanusiaan

PALU-Celebesta.com, Munir Said Thalib nama lengkapnya, ia seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM).

Munir yang meninggal dunia pada 7 September 2004 karena di racun ketika dalam penerbangan menuju Belanda.

Kini sudah 19 tahun berlalu tetapi kematiannya belum terungkap dengan jelas.

Suciwati istri Munir sekaligus penulis buku mencintai Munir saat menjadi pemateri dalam Bedah Buku di Warkop Tanaris, Kota Palu. Minggu (17/09/2023) mengatakan bahwa Munir adalah sosok manusia memanusiakan manusia.

Menurut Suci, mencintai Munir sama dengan mencintai kemanusiaan itu sendiri.

“Yang diharapkan dari membaca buku ini adalah membangun kesadaran, saya ingin orang mengenal Munir seoriginal ini,” ucap Suci.

“Munir itu bukan fiktif dia manusia biasa dan kami pernah hidup bersama. Keberanian Munir juga dimiliki oleh orang lain,” lanjut Suci.

Suci diketahui juga sebagai aktivis yang pernah melakukan advokasi terhadap buruh mengatakan bahwa ketika Munir menjadi suaminya itu adalah pilihan dan kata hati.

Usai Bedah Buku,Celebesta.com mewawancara Suciwati. Berikutnya kutipannya !

Celebesta: Apa harapan Ibu Suci setelah bedah buku ini dilakukan di Kota Palu ?

Suciwati: Bedah Buku ini adalah upaya untuk mengungkap sejarah dalam perspektif korban.

Menceritakan fakta-fakta, merawat ingatan dimana ada kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh negara yang tidak dipertanggungjawabkan sampai sekarang.

Untuk mengingatkan generasi muda bahwa ada masalah yang perlu diperbaiki bersama

Celebesta: 19 Tahun kematian Cak Munir apakah ibu Suci Masih ada harapan ke Pemerintah dalam mengungkap Kasus ini ?

Suciwati: Kalau harapan ke Pemerintah gak sih, pada sebuah rezim yang korup. Ini goalnya lebih ke generasi muda, Kalau mereka memilih berpartai, berkuasa agar menegakkan Hak Asasi Manusia. Ada Pekerjaan rumah yang belum selesai dikerjakan pemerintah saat ini mereka harus bertanggungjawab menyelesaikan. Itu adalah bagian kami merawat optimistis pada generasi muda bukan ke pemerintah.

Celebesta: Mengapa memilih Kota Palu sebagai tempat bedah buku ?

Suciwati: Aku sih berpikirnya begini, dulu setiap kasus Munir naik selalu ada Bom di Poso, di Palu dan beberapa tempat tetapi saya mengingatnya lebih banyak di Sulteng. Itu ketika, misalnya ada badan intelijen yang mau diperiksa.

Saya juga berpikir, kenapa ya ? Olehnya itu penting merawat ingatan agar kita yang sama sebagai korban yang dilakukan oleh pemerintah atau menggunakan lembaga negara yang dibayar oleh rakyat tetapi melukai rakyat itu harus dipertanggungjawabkan.Jadi itu alasannya kenapa pilihannya Palu.

Celebesta: Sejauh ini, Dimana saja Daerah di Indonesia tempat bedah buku ?

Suciwati: Ada banyak, Medan, Jawa, Bali kemudian untuk Ternate teman-teman lagi berpikir untuk disana. (AS)

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan