oleh

Kisah ‘Batu Ba Ganda’ dan Telapak Tangan

(Sejarah, Demokrasi dan Pertambangan)

Richard Fernandez Labiro

Kisah ‘batu ba ganda’terdapat di Desa Ganda-Ganda Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara. Istilah ‘batu ba ganda’ terinspirasi dari suara gendang misterius yang berbunyi pada malam hari. Suara mirip gendang yang ditabuh itu, merupakan suara alam yang diakibatkan benturan air laut dengan batu karst.

Berdasarkan tutur salah satu orang tua di Desa Ganda-Ganda, dulu terdapat suku Tolaki yang mendiami kampung itu terlebih dahulu. Mereka datang dari Sulawesi Tenggara (kampung asal) untuk menghindari penjajahan Belanda kala itu.

Saat tiba di dataran Petasia, para orang Tolaki itu mendengar suara gendang yang nyaring. Sontak mereka kaget dan mengira ada musuh (Orang To Belo) yang mendekat. Mendengar suara gendang yang mirip genderang perang itu membuat orang Tolaki ini pergi mencari bantuan.

Ketika mendatangi beberapa pemukim asli disana (To Bare’e) mereka katakan ada musuh yang mendekati mereka. Dikatakan orang Tolaki itu terdengar suara gendang yang dekat. Mendengar pernyataan mereka, salah satu To Bare’e itu mengatakan bahwa itu suara ‘batu ba ganda’. Suara mirip gendang itu terjadi akibat hempasan ombak laut ke gunung karst.

Di lokasi yang sama, selain ‘batu ba ganda’, terdapat ukiran telapak tangan (seni cadas) yang diduga peninggalan prasejarah. Ukiran telapak tangan itu semakin memperkuat perkiraan, bahwa konon ada jejak manusia purba disana.

Orang Tolaki yang awalnya datang pertama kali ke Dataran Petasia itu bersepakat membuat pemukiman. Dan menamai kampung itu dengan nama Ganda-Ganda (terinspirasi dari ‘batu ba ganda’). Pemukim mula-mula di Ganda-Ganda, menyambung hidup dengan melaut atau mencari ikan. Selain itu mereka mencari damar, kebetulan disana terdapat komoditas damar yang siap diolah. Tempat damar itu diberi nama Topohulo/Topehule.

Selain orang Tolaki yang mendamar, orang Mori juga mendamar. Namun terletak perbedaan diantara keduanya. Orang Mori menjual damarnya ke orang Bugis di kampung Tompira. Sedangkan, orang Tolaki lebih menjual damarnya ke kampung halaman mereka.

Semakin lama, orang Tolaki semakin berkembang biak. Mereka telah membangun peradaban di Desa Ganda-Ganda dan telah mengalami kawin campur. Selain Tolaki, di Desa Ganda-Ganda terdapat pula suku Buton. Keduanya sangat mendominasi di Desa Ganda-Ganda.

Kini Desa Ganda-Ganda telah menjadi Desa Lingkar Tambang! Terdapat beberapa perusahaan tambang nikel di Desa Ganda-Ganda, yang paling tersohor PT Mulia Pasific Resources dan PT Central Omega Resources.

Tambang nikel itu sudah beroperasi kurang lebih sejak tahun 2011, kini perusahaan ini semakin bertumbuh dan sekarang sedang membangun jetty atau pelabuhan bongkar muat. Sejak awal hingga sekarang, perusahaan tambang itu telah mendatangkan masalah bagi orang Ganda-Ganda. Masalah itu diantaranya; perampasan lahan,kerusakan lingkungan,pencemaran air laut,banjir dan longsor, dan nirdemokrasi.

Beberapa waktu lalu (awal tahun 2023), PT Mulia Pasific Resources memohon kepada Dishub Kabupaten Morowali Utara agar merekomendasikan Jetty kepada mereka. Permohonan proyek itu tidak melibatkan masyarakat di Desa Ganda-Ganda.

PT Mulia Pasific Resources menargetkan bukit karst yang terdapat gua-gua, telapak tangan dan batu ba ganda sebagai lokasi proyek mereka. Mengetahui hal itu, masyarakat Ganda-Ganda menggelar pertemuan untuk mendesak perusahaan membuka dokumen perizinanya kepada masyarakat. Maka, pihak perusahaan membuat kesepakatan bersama masyarakat untuk mensosialisasikan rencana jetty di Desa Ganda-ganda.

Akan tetapi, PT Mulia Pasific Resources tidak menghindahkan kesepakatan itu, malahan mereka meledakan batu batu karst di lokasi jetty dengan dinamit. Suara keras dinamit nyaring terdengar di seluruh Desa Ganda-ganda. Orang pun kaget, mereka terperanjat akan dentuman dinamit yang menggelegar bak Guntur di malam hari. Dan orang Ganda-ganda menebak-nebak asal suara ledakan itu.

Sehingga, banyak orang pergi mencari lokasi suara itu berada. Ketika mereka mendapatkan asal suara, orang Ganda-ganda kaget, ternyata ada aktivitas perusahaan diatas warisan sejarah nenek moyang mereka.

Di lokasi kerja Jetty, puluhan orang Ganda-ganda sedang adu mulut dengan pihak PT Mulia Pasific Resources. Chief Security didelegasikan perusahaan untuk menghadapi orang kampung yang lagi ngamuk. Karena tidak terkendali, adu mulut plus saling dorong, menyebabkan chief security itu diterjang sekelompok anak muda dan terguling bagaikan bola sepak. Karena itu, Chief Security yang didukung pihak perusahaan melaporkan kejadian itu ke Polres Morowali Utara.

Kemudian, Polres Morowali Utara memanggil 2 nama yang dianggap pimpinan massa sebagai saksi atas kejadian tersebut. Nama-nama itu adalah Jumran, Setiawan dan Djudyn. Mereka pun mengindahkan panggilan Polres dan memberikan keterangan yang sebenarnya. Hanya saja, pihak Polres tetap memaksa agar Jumran diakui sebagai Kordinator massa aksi atau pimpinan unjuk rasa.

Jumran membantah tuduhan pihak Polres, dirinya bukan pimpinan demo, ia datang ke lokasi massa ketika mengetahui ada postingan di Facebook yang menjelaskan protes orang Ganda-ganda terhadap pihak perusahaan yang mencoba mengeksploitasi gunung karst telapak tangan dan batu ba ganda. Namun, berkat pengetahuan hukum (kebetulan Jumran mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Tadulako) membuat dirinya tidak ditetapkan tersangka.

Akan tetapi, pasca pemanggilan Polres sebagai saksi, muncul surat pemberitahuan Polres Morowali Utara yang menetapkan Hamdan dan Djudyn sebagai tersangka pada kejadian tersebut. Sehingga, Hamdan dan Djudyn warga Ganda-Ganda ditahan di Polres selama 20 hari ditambah 4 hari.

Selama mendekam di sel Polres, Hamdan dan Djudyn didamping kuasa hukumnya. Walau ada pendampingan, pihak keluarga tidak tega melihat kepala rumah tangga mereka di kurung bagaikan kriminal. Sehingga, mereka (pihak keluarga) mencari cara agar Hamdan dan Djudyn dibebaskan.

Pihak keluarga memohon kepada pelapor untuk mengeluarkan Hamdan dan Djudyn dari kurungan Polres. Maka, agar berjalan sesuai harapan, Chief Security (si Pelapor) menggelar pertemuan yang dihadiri pihak lain seperti Camat Petasia, Kades Ganda-Ganda dan disaksikan beberapa perwakilan masyarakat Ganda-Ganda.

Di atas surat pernyataan yang dibuat pihak pelapor, Hamdan dan Djudyn menandatangani surat itu diatas materai Rp.10.000. Namun, isi surat pernyataan itu sangat mengherankan. Poin-poin surat pernyataan itu pada umumnya memaksa orang Ganda-Ganda untuk menghentikan protes mereka terhadap aktivtas perusahaan yang lagi membongkar bukit Telapak Tangan dan Batu Ba Ganda. Tapi, tidak hanya itu, Chief Security meminta uang ganti rugi sebesar Rp. 75 juta kepada Hamdan dan Djudyn. Alasanya, uang itu sebagai pengganti biaya pengobatan Chief Security selama menjalani pengobatan di Makassar.

Dengan heran, pihak Hamdan dan Djudyn menanyakan perhitungan jumlah uang ganti rugi itu. Akan tetapi, Chief Security tidak mau memberikan darimana taksiran uang itu dia tentukan. Chief Security ini adalah pensiunan Kopasus yang sedang bekerja sebagai kepala keamanan bagi PT Mulia Pasific Resources.
Perusahaan tambang PT Mulia Pasific Resources punya Izin Usaha Pertambangan seluas 4.780 hektar. Luasan izin ini mencaplok wilayah Kelurahan Kolonodale (Ibu Kota Kabupaten Morowali Utara) dan Desa Ganda-Ganda.

Pada bulan februari 2023, terjadi banjir bandang yang menerjang Kelurahan Bahoue dan Bahontule dekat dengan Desa Ganda-Ganda. Banjir itu dinilai akibat dari aktivitas tambang nikel PT Mulia Pasific Resources. Akibatnya, DPRD Kabupaten Morowali Utara mendesak pihak perusahaan untuk menghentikan aktivitas mereka.

Akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Desa Ganda-Ganda, walau ada desakan pemberhentian aktivitas tambangnya. PT Mulia Pasific Resources tetap merusak bukit karst yang terdapat Telapak Tangan dan Batu ba Ganda. Saban hari, orang Ganda-Ganda terus mendengar dentuman dinamit. Dan membungkam suara merdu gendang Batu ba Ganda.

Sebenarnya, Bupati Morowali Utara telah menetapkan Gua, telapak tangan dan Batu ba Ganda sebagai cagar budaya dan telah di SK-kan. Dan sekaligus menetapkan hamparan laut Teluk Tomori sebagai cagar budaya etnik maritime yang menyimpan sejarah inklud kulrut maritime yang mau diletarikan.

Ketika jetty ini telah 100 persen berdiri, tidak terbanyangkan, bagaimana kapal tongkang dan kapal cargo yang memuat batu bara dan ore nikel mondar mandir di perairan Teluk Tomori. Sebelum ada itu, laut di Teluk Tomori sudah lebih dulu rusak dan tercemar oleh buangan limbah hasil galian tambang nikel.

Kalau jetty sudah terbangun, maka jangan heran, pemandangan yang terlihat di atas bukit Kolonodale adalah pemandangan transportasi energi kotor.

Pasca surat pernyataan ditanda tangani, resistensi di Ganda-Ganda menurun, mereka masih melawan tapi diam, mereka tidak tega kalau simbol da nasal usul kampung mereka diporak-porandakan bagaikan anak sulung yang dihakimi massa.

Kini, demokrasi (kebebasan) di Ganda-Ganda semakin menurun berkat pembungkaman suara rebelion masyarakat yang ditutup dengan suara dinamit yang eksploitatif. Dan kedepan, Telapak Tangan dan Batu ba Ganda si penabuh gendang itu lenyap ditelan proyek berbasis kapitalisme!

Penulis adalah Direktur Yayasan Tanah Merdeka

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan