oleh

Ikhtiar KOHATI (Korps HMI-Wati) di Usia 54 Tahun

Oleh: Citra Racindy*

“Tabahlah seperti perempuan, saban hari memandikan anak tetapi tak pernah menuntut adanya mesin cuci anak” (Sudjiwo Tedjo).

Ada beberapa statement mengatakan bahwa seorang perempuan adalah rahim peradaban. Dimana, dengan rahim seorang perempuanlah mampu menciptakan generasi-generasi selanjutnya. Namun, benar adanya perlu bekerjasama dengan laki-laki. Dengan rahim tersebutlah perempuan ditegaskan menjadi seorang ibu. Sebuah peran yang sangat dimuliakan. Namun sayangnya, terkadang dari kaum perempuan itu sendiri tak menyadari akan esensi dari peran tersebut. Sebenarnya dengan kesadaran itu kiranya mampu meningkatkan kualitas diri.

Dalam sebuah proses, mengedukasikan perempuan sebagai madrasatul ula kepada para perempuan lebih sulit dibandingkan dengan laki-laki. Banyak yang sadar namun tak banyak yang mau belajar. Padahal jikalau dari perempuannya sendiri paham, mungkin degradasi iman dan moral tidak akan menjerat kepada beberapa generasi. Karena tugas seorang ibulah untuk mengedukasi buah hatinya. Hal ini diperangi dengan tingginya tingkat gengsi beberapa perempuan atas keterwakilannya dalam ketatanegaraan. Bukan berarti tidak boleh berperan, hanya saja jika sudah merasa mampu untuk mendedikasikan diri di tata rumah tanggga, baru mengambil peran yang cakupannya besar.

Rumah tangga itu jantungnya ada di seorang perempuan, baik dia berperan sebagai seorang istri maupun seorang ibu. Karena seorang istri dan ibu adalah rumah sesungguhnya. Ketika seorang suami lelah, pulang kepada istri. Ketika seorang anak lelah mengadu kepada ibunya. Lalu bagaimana jika peran itu tidak dijalankan dengan baik dalam rumah tangga? Mungkin bisa saja, namun tidak menciptakan keharmonisan yang membuat berumah tangga lebih bermakna.

Hari ini, nasi tumpeng terlihat kokoh di segala penjuru Indonesia dengan segala macam ukuran. Dari yang terkecil hingga terbesar. Hal ini merupakan agenda tahunan yang membudaya dalam perwujudan bentuk penyambutan hari lahirnya sebuah lembaga yang bernama KOHATI (Korpsi HMI-Wati). Tepat pada tanggal 02 Jumaidli Akhir 1386 H yang bertepatan pada tanggal 17 September 1966 M pada Kongres VIII Himpunan Mahasiswa Islam di Solo. Maesarah Hilal dan Siti Zainah yang merupakan pendiri HMI adalah sosok yang telah memprakarsai berdirinya KOHATI. Dibantu dengan tokoh lain seperti, Siti Baroroh, Tujimah, Tedjaningsih, Ida Ismail Nasution, dan Annis Wati Rohlan.

Pada tanggal 17 September 1966 pertama kali diadakan musyawarah nasional KOHATI yang bertempat di Yogyakarta. Dengan terpilihnya Annisa Rochlan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar KOHATI yang pertama. KOHATI merupakan sebuah lembaga Himpunan Mahasiswa Islam yang merupakan sebuah wadah berkumpulnya HMI-Wati untuk mengembangkan minat, bakat serta menampung aspirasi HMI-Wati terhadap isu keperempuanan.

Keberadaan KOHATI sudah berusia 54 tahun, berbeda 19 tahun dari usia Himpunan Mahasiswa Islam. KOHATI memiliki peran sebagai pembina dan pendidik HMI-Wati untuk menegakkan dan mengembangkan nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Perempuan pada hakikatnya merupakan sebagai seorang putri, istri, ibu dan anggota masyarakat. Perempuan akan menjadi seorang ibu, inilah kunci dari seorang perempuan.  “Ibu yang cerdas, akan menghadirkan generasi yang cerdas”. Maka dari itu KOHATI kiranya mampu menciptakan perempuan yang memiliki kemampuan:

1. Intelektual

Untuk mencapai peran utama seorang perempuan kiranya harus dibekali dengan ilmu yang mumpuni. Karena akan beda kualitas seseorang yang memiliki pengetahuan dengan yang tidak memiliki pengetahuan dalam menjalankan tugasnya sebagai madrasatul ula khususnya. Selain itu, pengetahuan tak pernah memihak harus dengan siapa ia dimiliki. Maka baik itu perempuan maupun laki-laki harus memiliki pengetahuan untuk menjalankn proses kehidupan. Sebab pengetahun adalah cahaya yang akan membawa kita dari kegelapan menjadi terang benderang bahkan penerang.

2. Kepemimpinan

Berbicara kepemimpinan, tak jarang ditemukan adanya kontroversi terhadap sifat kepemimpinan yang harus dimiliki perempuan. Namun sebenarnya, perempuan kiranya wajib memiliki sikap kepemimpinan untuk mendidik anak-anaknya. Jiwa kepemimpinan itu terlahir dari seorang perempuan yang akan ditularkan kepada anaknya. Namun, bukan kepada suami, hanya sebatas kepada anak. Karena anak 90% berada di sisi ibunya setiap saat. Jadi sikap, sifat dan sebagainya yang pertama kali ia rekam adalah dari sosok seorang ibu.

3. Keterampilan

Apa jadinya di era modern ini perempuan hanya bermodalkan paras, kekayaan, jabatan dan karir semata? Sejalan dengan gelombang MEA sekarang, perempuan itu diibaratkan sebuah investasi besar yang tidak ternilai harganya. Tentunya sebuah investasi tidak bermodalkan tampilan luar saja, akan tetapi harus terpoles dengan kualitas pada dirinya. Dengan keterampilan perempuan akan indah dengan pembawaannya. Ditekan kembali bahwa perempuan keunggulan terbesarnya adalah menjadi seorang ibu, maka harus perlu belajar menjadi ibu yang berkualitas. Dalam pepatah Arab mengatakan bahwa ibu adalah sekolah, jika kamu persiapkan dengan baik, maka seolah kamu telah mempersiapkan kebaikan sebuah umat.

Syair Arab juga mengatakan bahwa perempuan adalah tiang negara, bila kaum perempuannya baik (berakhlak karimah) maka negaranya baik, dan bila perempuannya rusak (amoral) maka rusaklah negara itu. Nah bisa diambil makna bahwa keberhasilan suatu negara di mulai dari memperbaiki perempuannya. Dalam mewujudkan Indonesia lebih baik, perlu kiranya memulai dengan cara sederhana yaitu memperbaiki kualitas perempuan Indonesia terkhusus HMI-Wati.

Harapannya, di usia yang ke 54 tahun ini. Lembaga ini mampu menjadi wadah untuk edukasi perempuan agar lebih peka terhadap kodrat dan perannya sebagai perempuan. Di mulai dari edukasi hal yang sederhana hingga implementasi yang besar. Sebab, gedung yang tinggi juga bermula dari pasir yang kecil. Begitulah pepatah maengatakan. Semoga wadah ini bisa selalu exis dalam edukasi untuk pembekalan diri menjadi seorang perempuan yang dirindukan surga. Bukan sebuah wadah untuk menuntut ini dan itu.

Demikianlah kiranya KOHATI harus tetap menciptakan perempuan yang baik dalam keimanan, pengetahuan maupun moral dan tetap istiqomah terhadap apa yang telah menjadi tujuan KOHATI yang terdapat pada Pedoman Dasar KOHATI (PDK). KOHATI harus mampu menjadi garda terdepan untuk kemaslahatan masa depan umat. Selamat berjuang KOHATI dijalan yang lurus jalan keselamatan. Jiwamu mulia mengabdi kepada-Nya yang kuasa.

Bahagia HMI, Jayalah KOHATI, Yakin Usaha Sampai.

*Penulis adalah Ketua KOHATI Cabang Persiapan Deli Serdang.

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed