oleh

Gadis Perawan Jadi Tumbal Jembatan Belanda

Oleh : Miftahul Afdal*

Banyak peninggalan masa penjajahan Belanda yang sampai sekarang masih terlihat bentuknya, salah satunya Jembatan Belanda yang terdapat di Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Jika pengemudi yang melewati Kecamatan Palasa, tentu saja akan menjumpai Jembatan Belanda yang masih berdiri kokoh di samping jemabatan baru jalan trans.

Jembatan Belanda dibangun pada Tahun 1936, sehingga Jembatan itu masuk dalam cagar budaya Kabupaten Parigi Moutong.

Menurut penuturan dari Penjaga Situs Cagar Budaya, Arya Prima Setia, tujuan pembangunan Jembatan Belanda itu sebagai akses mempermudah logistik Belanda pada masa penjajahan karena terdapat dua devisi tentara Belanda yang bertempat di Tinombo dan Tomini.

“Ada goa yang ditempati oleh Belanda di Desa Biga (saat ini) Kecamatan Tomini ,”tuturnya.

Pekerjaan Jembatan Belanda dilakukan oleh orang asli yang mendiami tanah Lauje, karena saat itu masih dalam penjajahan, maka ada yang dinamakan kerja paksa atau kerja rodi.

Ia juga menerangkan, konon cerita yang tersiar kepada masyarakat setempat mengenai Jembatan Belanda itu, pernah ditumbalkan seorang gadis perawan.

“Tumbalnya itu seorang gadis perawan berkisar 17 Tahun dari suku Lauje asli, yang di tanam di bawah pondasi jembatan, tujuannya sebagai penguatan pembangunan jembatan agar tetap kuat berdiri sampai ratusan tahun,”terangnya.

Di tempat yang terpisah, Budayawan Kecamatan Palasa, Ismail Palabi, pernyataannya hampir senada, bahwa dahulu kala sungai Palasa tidak bisa diseberangi, sebab airnya menggunung. Sehingga, Pemerintahan Belanda pada waktu itu, membuat Jembatan sebagai hubungan antar distrik Tinombo dan Tomini.

“Dikatakan sebagai Jembatan Belanda karena yang membuat itu adalah orang Belanda dan pada saat penjajahan Belanda,”ucapnya.

Sebelumnya, kata Ismail, pada saat akan dilaksanakan pelantikan Raja Kuti Tombolotutu di Batu Raja pada tahun 1929, yang bersamaan dengan salah satu pejabat tinggi Pemerintah Belanda yakni Kontroliur, ingin menyeberangi sungai Palasa, tapi tidak bisa karena deras dan tingginya air sungai Palasa, walaupun tidak musim hujan, sungai itu tidak bisa diseberangi.

“Akhirnya, mereka mengeluarkan anggaran untuk membangun Jembatan Belanda itu pada Tahun 1936 untuk memudahkan hubungan antar distrik Tinombo dan Tomini,” jelasnya.

Pemborong pekerjaan Jembatan Belanda tersebut, merupakan orang Cina karena saat itu Cina dikenal dengan memiliki banyak modal, kemudian diambilah kepala tukang yang berasal dari Desa Tada bernama Kaba.

Pekerjaan Jembatan Belanda kata Ismail, diselesaikan selama 1 Tahun, karena adanya kemudahan bahan kayu, yang waktu itu masih banyak hutan belantara. “Jadi kayu-kayu masih gampang untuk diambil dijadikan sebagai bahan bangunan jembatan, kayu yang dipakai itu kayu besi,” ujarnya.

Ismail juga mengatakan, tumbal seorang gadis perawan itu sebagai syarat untuk penguatan Jemabatan Belanda agar tidak roboh, sebab bisa dilihat dari Tahun 1936 sampai 2020 sekarang ini, Jembatan Belanda masih tetap berdiri kokoh, itu bagian dari cerita mistis yang tersebar ditelinga masyarakat yang belum diketahui keberadaannya.

Di Jembatan Belanda itu juga terdapat tulisan Cina yang terpampang di kayu Jembatan, tulisan itu bisa dilihat apabila memasuki Jembatan Belanda, namun sampai saat ini belum ada yang memberikan penafsiran apa arti dari tulisan cina tersebut, apakah berupa angka atau huruf.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Sosiologi Universitas Tadulako.

Share

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar